MAMUJU – Pekerjaan jalan Martadinata-perbatasan Tapalang Barat dari program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), mendapat sorotan warga.
Proyek yang dikelola Dinas PU Sulbar itu diduga dikerja asal-asalan.
“Pemasangan batu mortal yang memiliki ketinggian di angka 1 meter ke atas ini rawan, karena dapat membahayakan keselamatan, utamanya anak kecil karena bangunan tersebut berada pas di depan rumah,” ungkap salah satu warga, Rudi, belum lama ini.
Rudi mengaku hanya ingin mengingatkan setiap orang yang terlibat dalam pekerjaan tersebut agar memperhatikan kualitas, jangan asal jadi.
Ia memperhatikan proses pekerjaan proyek tersebut agak janggal, terutama saat pemasangan batu.
“Bagaimana, kita perhatikan coba, dalam tahap pemasangan saja sudah salah. Masa ada orang pasang batu dibiarkan terendam air, kan, harusnya itu minimal dikeringkan dulu airnya baru pasang batu,” urainya.
Bukan hanya itu. Rudi juga menyorot campuran semen yang digunakan para tukang.
Salah satu pekerja proyek yang enggan diungkap identitasnya, mengatakan, bekerja sesuai dengan kesepakatan bersama Perusahaan Sumaindo.
Perusahaan tersebut diketahui sebagai penanggung jawab proyek jalan Martadinata-perbatasan Tapalang Barat.
Pekerja proyek ini menceritakan bahwa nilai kesepakatan pekerjaan per kubikasi yang masuk dalam kesepakatan adalah Rp.400.000 per kubik.
“Artinya kan tidak mungkin kami mau rugi lebih dari itu, sedangkan harga material hari ini semuanya naik,” akunya.
Wartawan pun mencoba berkonsultasi dengan seseorang konsultan pekerjaan mengenai analisis harga dengan kualitas pekerjaan.
Dari analisis itu, didapat hitungan Rp. 400.000 per kubikasi memang jauh dari kualitas dengan rincian harga:
*Pasir : 137.500/Kubik (550 ribu/Res)
*Batu gunung :137.500/kubik (550 ribu/Res)
*Semen :165.000/kubik (55 ribu *3 Zak)
*Tukang : 120.000.
