MAMUJU – Rumah Sakit (RS) Terapung Universitas Airlangga melakukan pengabdian masyarakat dalam program “Edukasi dan Deteksi Stunting Sejak Dini pada Daerah Bencana” di Desa Bambu, Kecamatan Mamuju, Kabupaten Mamuju, Sulbar, Jumat, 10 September 2021 kemarin.
Kegiatan tersebut dilaksanakan di kantor Desa Bambu dengan melibatkan 60 orang tua bersama anak yang berumur 1 bulan-5 tahun. Kegiatan ini dibagi menjadi 2 sesi, pagi dan sore.
Ini merupakan kunjungan kedua RS Terapung Universitas Airlangga.

Menurut dosen Fakultas Kedokteran Ailangga, dr. Gadis Meinar Sari, pihaknya pernah mengunjungi Sulbar pascabencana gempa bumi, 15 Januari lali. Kali ini, program deteksi stunting menjadi isu yang akan dibawah untuk program pengabdian.
“Dari data 2017, Mamuju menjadi peringkat 2 stunting se-Sulbar. Sementara Provinsi Sulbar juga menjadi peringkat 2 stunting tertinggi Indonesia,” ungkap Gadis.
Olehnya, identifikasi stunting perlu dilakukan di Mamuju, Sulbar, dengan cara kaderisasi bersama puskesmas dan pemberian alat deteksi stunting, berupa selimut beserta look book stuntin.
Program tersebut merupakan kegiatan rutin pihak Airlangga yang dilaksanakan tiap tahun di beberapa provinsi di Indonesia.
Sementara itu, wakil ketua Puskemas Bambu mengatakan, kegiatan identifikasi stunting sejak dini sangat penting bagi masyarakat dan berharap, masyarakat dapat mandiri dalam mendekteksi stunting sejak dini.
Dalam pelaksanaan kali ini, ada 4 tim kedokteran dari Universitas Airlangga, yakni dr. Gadis Meinar Sari, dr. Armrina Rosyada, dr. Andriani Damris dan David Nugraha.
HARLY
