MAMUJU – Pemerintah melalui PT. Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) saat ini sedang melakukan tahap penelitian atau eksplorasi awal kandungan logam tanah jarang (LTJ/RRE) di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.
Ada dua lokasi yang saat ini menjadi proyek percontohan, yakni Desa Botteng, Kecamatan Simboro, dan Desa Takandeang, Kecamatan Tapalang.
Sejak Badan Geologi Kementerian ESDM mengeluarkan data soal potensi LTJ di Mamuju, publik mulai memperbincangkan soal manfaat yang bakal ditimbulkan dari keberadaan bahan baku teknologi modern tersebut.
Untung atau buntung?
Seperti diketahui, pengelolaan LTJ memberikan manfaat besar bagi kedaulatan teknologi, nilai tambah ekonomi, dan kemandirian industri nasional. Selain itu bisa membuka lapangan kerja baru serta memperkuat SDM Masyarakat lokal.
Baca juga:
Pemprov Sulbar Apresiasi Sosialisasi Eksplorasi LTJ PT PERMINAS di Takandeang
Namun begitu, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Barat mengingatkan bahwa sebagian wilayah yang masuk dalam rencana pengembangan tambang berada pada kawasan dengan fungsi ekologis penting. Berdasarkan kajian WALHI, pengelolaan tambang akan berdampak pada resapan air, kawasan perbukitan, lahan pertanian masyarakat, serta jalur sumber air yang selama ini menopang kehidupan warga di Kecamatan Simboro.
Belum lagi terkait kandungan radioaktif yang dikhawatirkan bisa mengancam keselamatan masyarakat.
Manajer Operasional PT. Perminas di Mamuju, Mochammad Nur, mengatakan, luas area yang bakal diteliti di Botteng dan Takandeang masing-masing mencakup 100 hektar.
Namun, untuk ekplorasi awal di tahun 2026 ini, pihaknya hanya akan meneliti area dalam radius 10 hektar.
“Luas area eksplorasi di dua desa ini masing-masing 100 hektar. Tapi untuk 2026 ini kami penelitian dulu 10 hektar,” ujar Mochammad Nur, Sabtu, 29 Agustus 2026.
PT. Perminas melakukan teknik bor mesin dan bor manual atau tangan dalam eksplorasi ini. Pada proses tersebut, perusahaan merekrut tenaga kerja lokal sebanyak 20 orang.
“Karena ini masih tahap skala kecil, kami gunakan tenaga kerja lokal 20 orang di Botteng, di Takandeang juga 20 orang,” sambungnya.
Mochammad Nur memastikan kolaborasi antara masyarakat dan pihak perusahaan tetap berjalan selama proses pengelolaan tambang logam tanah jarang.

PT. Perminas bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk meneliti unsur kandungan LTJ di dua desa tersebut.
“Jadi dari hasil bor tangan kita bawa ke BRIN. Sementara bor hasil mesin dibawa ke lab di Jakarta,” terangnya.
Kata Mochammad Nur, hasil dari penelitian tersebut akan diketahui paling tidak tahun depan. Hal itu juga bakal menentukan apakah pengelolaan LTJ tersebut berlanjut ke tahap produksi.
Terkait ancaman lingkungan dan kandungan radioaktif, Mochammad Nur menilai, kuncinya ada pada analisis dampak lingkungan atau Amdal.
Baca Juga:
Mamuju jadi WIUP ‘Harta Karun’ Pertama di Indonesia
Pihaknya pun memastikan dokumen Amdal pengelolaan LTJ di Mamuju disusun secara komprehensif.
“Semua tambang, mau logam tanah jarang, batuan andesit, apalagi bicara teknologi modern saat ini, pasti punya potensi radioktaif. Tinggal bagaimana kita mengelola lingkungan itu. Pastinya lewat kajian Amdal,” jelas Nur
Sementara itu, Tokoh Masyarakat Botteng, Kumbang, menilai kehadiran PT. Perminas dalam mengelola tambang LTJ berdampak positif dari sisi perekonomian masyarakat.
Dia menjelaskan, tenaga kerja lokal yang dialokasikan perusahaan sebanyak 20 orang, bisa dimanfaatkan dengan baik oleh warga.
“Masyarakat yang dipekerjakan ini untuk mengebor manual dengan tangan. Jadi kami atur, agar semua kebagian kerja, caranya rolling kerja,” kata Kumbang.
Meski tak menampik adanya potensi bakal berpengaruh pada lingkungan, tapi Kumbang merasa risikonya relatif kecil.
“Risikonya ini agak bisa diatasi. Apalagi ini adalah program pemerintah, perusahaan pemerintah, pastinya akan bertanggung jawab sama masyarakatnya. Beda hal jika yang datang perusahaan swasta, mungkin pertimbangan masyarakat akan banyak,” terang Kumbang.
Sekadar diketahui, hilirisasi LTJ diolah menjadi berbagai komponen bernilai tambah tinggi untuk industri teknologi tinggi, energi bersih, elektronik, hingga pertahanan.
