“Semua orang pasti memiliki momen di mana mereka sebenarnya melanggar moral, melanggar hukum tapi tidak ketahuan. Semua orang punya garis hitam.”
Hal itu yang mendasari empat orang anak muda di Mamuju ini membentuk suatu komunitas sosial. Komunitas yang kemudian menjadi asa bagi mereka, warga binaan dan mantan warga binaan lembaga pemasyarakatan perempuan.
Achmad Nur, Muh. Rifai Sahida, Ulfa Purnamasari, dan Muh. Arifsan memberdayakan para warga binaan dengan memberi pemahaman tentang kewirausahaan, sekaligus mendorong lingkungan yang ramah bagi eks napi.
Keempatnya memang punya pemikiran yang cenderung antimainstream. Betapa tidak, di usia yang masih muda – usia yang identik dengan sifat hedon – apatis — mereka malah “berani” menyibukkan diri dengan orang-orang termarginalkan.
Berawal pada September 2019.
Achmad, Ulfa dan Bojes (sapaan akrab Muh. Arifsan) kebetulan berada dalam kelompok belajar yang sama.
“Rifai sering datang di tempat kami ngumpul,” kisah Achmad kepada wartawan.
Ide memberdayakan warga binaan muncul saat Rifai diundang oleh Lapas Perempuan Kelas III Mamuju sebagai pembicara dalam materi bertemakan lingkungan.
Selepas dari lapas, Rifai lalu menemui ketiga sahabatnya itu. Dia menyampaikan segelumit tentang kondisi lapas dan para penghuninya.
Diskusi berakhir, kesimpulan pun diambil: mereka harus berbuat untuk penghuni lapas.
“Kami kuliah di luar Sulawesi, sangat sedih rasanya kalau tidak ada yang bisa diperbuat,” ungkap Achmad.
Mereka lalu bertemu pihak lapas dan menceritakan maksudnya. Gayung bersambut, ide itu diterima pengelola Lapas Perempuan Mamuju.
Menurut Achmad, perempuan yang punya latar belakang narapidana lebih rentan terhadap persekusi dan diskriminasi di lingkungannya. Hal ini membuat eks napi perempuan sulit mendapat pekerjaan.
Dia menceritakan kisah salah satu warga binaan perempuan yang usaha penjualan motor bekasnya bangkrut hanya karena masyarakat mengetahui pemiliknya seorang narapidana.
Achmad mengatakan perempuan eks narapidana berhak untuk kembali dan diterima oleh lingkungannya.
Mereka pun sepakat membentuk komunitas sosial bernama Garis Hitam Project.
Kelompok ini berkomitmen untuk berpartisipasi aktif memberdayakan warga binaan dan mantan warga binaan lapas perempuan secara gratis, serta memiliki visi menciptakan lingkungan yang lebih inklusif bagi semua kalangan masyarakat.

Garis Hitam Project dipiih sebagai identitas gerakan karena Achmad dan kawan-kawan meyakini semua orang pasti punya kesalahan — semua orang pasti pernah melakukan pelanggaran baik yang diketahui maupun tidak diketahui.
Singkatnya, semua orang punya garis hitam.
Garis Hitam Project menilai kaum marginal seperti warga binaan dan mantan warga binaan berhak mendapat perlakuan yang sama.
Ada satu kesan yang dirasakan Achmad saat pertama kali bertemu warga binaan perempuan.
Dari salah satu serial yang pernah Achmad lihat, kehidupan dalam penjara itu seram, penuh kekerasan dan pembully-an. Nyatanya, kondisi di Lapas Perempuan Kelas III Mamuju sangat berbeda.
“Kondsi di dalam justru sangat hangat, warga binaannya saling bersendagurau.”
Achmad melihat rasa kekeluargaan antarwarga binaan terjalin kuat.
Dalam praktiknya, Garis Hitam Project biasanya bekerja sama dengan pihak lain untuk menyuplai peralatan, serta mendatangkan mentor untuk melatih warga binaan membuat kerajinan tangan yang bernilai ekonomis.
Namun begitu, upaya Garis Hitam dalam mengajak warga binaan menjemput asa bukannya tanpa tantangan berarti.
Rasa pesimis dan minder langsung menyelimuti jika hasil karya mereka dipasarkan. Sebagai orang terhukum, warga binaan takut status mereka diketahui masyarakat luas.
“Kebanyakan dari mereka takut kalau diketahui lingkungannya,” kata Achmad.
Tapi ada pula yang masih optimis, bahkan berhasil merintis usaha berbekal pelatihan Achmad dan kolega.
Tanggal 14 Februari 2020 atau lima bulan sejak Garis Hitam memulai proyek sosial di lapas perempuan, komunitas itu pun diproklamirkan secara resmi ke publik.
Hajatan besar Garis Hitam Project ini dibuka langsung Wakil Gubernur Sulawesi Barat kala itu, Enny Anggreni.
Menurut Achmad, atensi wakil gubernur terhadap kegiatan Garis Hitam Project di lapas perempuan menjadi magnet bagi lembaga lain untuk ikut berpartisipasi.
“Setelah wakil gubernur berkunjung dan berkontribusi ke lapas, lembaga lain juga ikut,” Achmad menambahkan.
Achmad cs juga membangun kerja sama dengan salah satu pengelola wisata yang khusus memfasilitasi mahasiswa sarjana maupun pascasarjana dari luar negeri, yang ingin melakukan penelitian di Sulawesi Barat.
Kesepakatan mereka ialah turis tersebut wajib berkunjung ke Lapas Perempuan Mamuju dan mempromosikan hasil kerajinan tangan warga binaan.
Sekitaran tahun 2021 Garis Hitam Project resmi berbadan hukum. Dan, di tahun itu pula, mereka mendaftar dalam ajang Semangat Astra Terpadu Untuk (Satu) Indonesia Awards 2021.
Ajang ini merupakan penghargaan yang diberikan oleh Astra bagi para pemuda Indonesia yang menginspirasi di berbagai bidang, antara lain kesehatan, pendidikan, lingkungan, kewirausahaan dan teknologi,
Perjuangan tak pernah mengkhianati hasil. Garis Hitam Project terpilih sebagai salah satu penerima penghargaan tingkat provinsi untuk kategori kewirausahaan.
Salah satu bentuk nyata kerja sama antara Astra dan Garis Hitam Project pada saat menyalurkan bantuan kepada penyintas bencana banjir bandang di Kalukku, Kabupaten Mamuju, tahun 2022.
Achmad mengatakan banyak manfaat dari bekerja sama dengan Astra, di antaranya kepercayaan dari pihak lain menjadi lebih tinggi sehingga lebih mudah untuk berkolaborasi.
Berjalannya waktu, Garis Hitam Project saat ini sudah memiliki delapan orang member. Namun untuk membantu tugas di lapangan, mereka melakukan perekrutan relawan.
Aksi mereka bak cahaya senter dalam gelapnya citra narapidana.
Salah satu mantan warga binaan Lapas Perempuan Mamuju menceritakan bagaimana mereka – dengan harapan yang hancur sebagai seorang narapidana – namun kemudian serpihan harapan itu disatukan kembali oleh proyek Garis Hitam.
“Semula kegiatan kami di lapas itu hanya beribadah, rasa jenuh sudah ada. Sekarang kepercayaan sudah ada,” kata eks warga binaan yang atas permintaan sendiri identitasnya dirahasiakan.
Eks warga binaan itu mengaku banyak pengalaman dan pengetahuan yang didapat – wabil khusus – semangat untuk menatap masa depan setelah Garis Hitam Project datang.
Dia sudah bisa membuat tas dari tali kur atau gantungan kunci dari bahan pipet.
Sementara itu, Kasubsi Pembinaan Lapas Perempuan Kelas III Mamuju, Surianti mengatakan interaksi dengan Garis Hitam Project membuat pembinaan kemandirian dan kesejahteraan bagi napi menjadi terarah.
Achmad dan kawan-kawan lewat Garis Hitam Project telah mengubah paradigma tentang warga binaan dan eks warga binaan.
Mereka – eks napi – berhak untuk hidup dan mengusahakan kehidupannya. Lingkungan semestinya membuka lebar tangan untuk mereka.
Setiap orang tak luput dari kesalahan, setiap orang memiliki garis hitam dalam perjalanan hidupnya! (***)

