MAMASA – Penjabat Gubernur Sulbar, Akmal Malik telah mengunjungi Sekolah Dasar Negeri (SDN) 010 Saluang di Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa, pekan lalu.
Sekolah tersebut sempat menghebohkan warganet lantaran dua muridnya mengadu ke Presiden Joko Widodo. Mereka mengaku kurang mengikuti proses belajar karena guru jarang hadir.
Pj Gubernur Akmal Malik menemukan sejumlah fakta, salah satunya murid SDN 010 Saluang ternyata hanya memiliki 11 siswa aktif.
Namun, ada kejanggalan terkait data sekolah dasar tersebut. Berdasarkan penelusuran di laman bos.kemdikbud.go.id, siswa SDN 010 Saluang berjumlah 49, terdiri dari 30 siswa laki-laki dan 19 siswa perempuan.

Sekolah itu berstatus akreditasi C dan menggunakan sistem Kurikulum 2013.
Hal ini pun mendapat tanggapan dari Barisan Milenial Mesakada Pitu Ulunna Salu (BrEM P.U.S).
Ketua BrEM P.U.S, Supardi, meminta pemerintah daerah dan DPRD Mamasa mengatensi masalah di SDN 010 Saluang.
Pihaknya menduga ada motif lain di balik perbedaan data tersebut.
“Kita takutnya ada motif lain, kenapa datanya beda antara yang di lapangan dan di website kementerian. Dugaan manipulasi data untuk keuntungan dana BOS kan bisa saja terjadi,” ujarnya, Minggu, 17 Juli 2022.
Sementara itu, Ketua Badan Akreditasi Nasional Sekolah dan Madrasah (BAN S/M) Provinsi Sulbar, Amran HB mengakui ada beberapa sekolah utamanya di wilayah terpencil, melakukan manipulasi data jumlah siswa.
“Ada beberapa sekolah yang pernah kita temukan, siswanya sedikit tetapi dia ambil (data) siswa sekolah lain digabung jadi siswanya, dalam rangka dana BOS itu tadi,” ungkapnya.
Dengan kemajuan sistem teknologi saat ini, Amran meragukan praktik manipulasi data sekolah bisa terjadi. Namun di tahun-tahun sebelumnya, dia melanjutkan, perbuatan tersebut sangat mungkin dilakukan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mamasa, Rusli enggan berkomentar banyak.
Ia hanya membeberkan alasan jumlah siswa SDN 010 Saluang sedikit karena malas dan banyak yang pindah sekolah.
“(SDN 010 Saluang beroperasi) sekitar tahun 1980. (Jumlah siswa) tidak menentu kadang 9 orang (kadang) 10, malas dan banyak pindah,” singkat Rusli lewat pesan WhatsApp.
Untuk diketahui, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia memutuskan satuan biaya BOS untuk SD di Kabupaten Mamasa tahun 2022 mencapai Rp 990.000 per siswa per tahun.
Jumlah ini sama dengan tahun 2021 lalu.
Berdasarkan data Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Majene, Kabupaten Mamasa tahun 2022 mendapatkan pagu Rp 23,3 miliar dengan jumlah 293 sekolah, terdiri dari satuan SD dan SMP, dengan penerima bantuan sejumlah 21.821 siswa.
Anggaran tersebut disalurkan secara tiga tahap.
