Rakasa Group Minta Pemdes Transparan soal Proyek Udang Bonda

MAMUJU – Rakasa Group mengklaim punya andil dalam kesuksesan proyek budidaya udang di Desa Bonda, Kecamatan Papalang, Kabupaten Mamuju, Sulbar.

“Rakasa Group, yang berperan besar dalam pengelolaan proyek budidaya udang di Desa Bonda, ingin menegaskan bahwa kesuksesan proyek ini tidak terlepas dari keahlian dan manajemen tim Rakasa Group. Kami merasa penting untuk meluruskan informasi yang beredar agar tidak terjadi kesalahpahaman atau penyalahgunaan informasi dalam pemberitaan,” kata Nike Sartika, Co-Founder Rakasa Group, dalam keterangan tertulis yang diterima Berandarakyat.com, belum lama ini.

Nike mengatakan proyek budidaya udang di Desa Bonda yang dimulai dengan kolaborasi berbagai pihak, berhasil mencapai hasil yang signifikan karena keahlian Rakasa Group dalam manajemen akuakultur. Dari perencanaan hingga implementasi, tim Rakasa Group terlibat penuh dalam memastikan tambak udang ini beroperasi dengan optimal, termasuk dalam menjaga kualitas hasil panen yang berkelanjutan.

Sayangnya, Nike melanjutkan, dalam acara panen Raya yang berlangsung pada Oktober 2024, Rakasa Group tidak diundang dan tidak disebutkan dalam laporan atau publikasi terkait kesuksesan proyek tersebut.

Selain itu, dirinya menuturkan bahwa laporan yang menyebutkan hasil panen sebesar 30 ton tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan, di mana hasil sebenarnya adalah 23 ton, berdasarkan data operasional Rakasa Group.

“Kami menghargai semua pihak yang berkontribusi, namun kami ingin menekankan bahwa keberhasilan tambak udang ini adalah hasil dari kerja keras dan keahlian Rakasa Group.”

“Transparansi dan penghargaan yang tepat sangat penting dalam setiap kolaborasi, sehingga semua pihak yang terlibat mendapatkan pengakuan yang layak sesuai dengan kontribusinya,” jelas Nike.

Rakasa Group, kata Nike, percaya bahwa kesuksesan sebuah proyek harus disertai dengan keterbukaan dan kejujuran dalam pelaporannya. Pihaknya berharap di masa depan, kolaborasi seperti ini bisa dijalankan dengan standar transparansi yang lebih tinggi, demi menghargai kontribusi setiap pihak yang terlibat.

Kepala Desa Bonda, Abd. Wahab via pesan WhatsApp mengaku sebelumnya sudah putus kerja sama dengan pihak Rakasa Group.

“Bumdes Bonda (memang) pernah bekerjasama, tapi di tengah perjalanan kedua belah pihak sepakat dengan tidak ada paksaan dari pihak manapun sepakat untuk memutuskan kontrak kerja sama. Dengan kesadaran adanya dalam klausul perjanjian yang sama-sama tidak bisa memberikan kewajiban,” ujar Wahab, 26 Oktober 2024.

Terkait hasil tambak, Wahab menjelaskan bahwa angka 30 ton itu adalah proyeksi dari teknisi tambak. Sementara kondisi di lapangan target meleset menjadi 23 ton 600 kwintal.

Namun begitu, ia mengatakan bahwa hanya teknisi yang bisa menjelaskan soal hasil panen tersebut. Apalagi, masih ada satu kolam menurut Wahab yang belum dipanen.

“Kalau terkait hitungan 30 atau 23 ton itu gaweannya teknisi untuk merefresentatif. Dan memang masih ada 1 kolam yang belum dipanen, dan bisa jadi memang itu 30 ton semuanya tapi sekaligus gawean teknisi tambak yang menganalisa hasil produksi,” ujarnya.

Wahab pun menceritakan, awalnya Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulbar yang mengenalkan eFishery kepada Pemdes Bonda. Kemudian eFishery kemudian menghubungkan pihaknya dengan Rakasa Group.

“Kami dikenalan eFishery oleh DKP Provinsi Sulbar, lalu eFishery mengenalkan kami Rakasa Group untuk menajalin koordinasi dan kerja sama. Namun di tengah jalan ada kewajiban yang tidak tertunaikan dalam klausul perjanjian sehingga kami sepakat putus kontrak dengan group Rakasa,” jelas Kades Bonda Abd. Wahab.

Leave a Comment