Dinkes Sulsel temukan 20.388 kasus tuberkulosis selama setahun

Makassar (ANTARA) – Dinas Kesehatan Sulsel menemukan 20.388 kasus Tuberkulosis atau TBC dalam setahun selama periode 2022 hingga sekarang.

 TBC adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis, kata dr Andi Julia Junus, Kepala Dinas TBC Sulsel, di Makassar, Rabu.

Dikatakan, data tersebut bisa bertambah karena pencarian pasien TB masih dilakukan hingga Februari mendatang.

“Kami belum menutup data, sehingga hingga hari ini, Rabu (4/01), kasus TBC di Sulsel mencapai 20.388 kasus di 24 kabupaten/kota atau 65,79 persen dari target nasional,” ujarnya.

Dijelaskannya kasus penyakit TBC tidak sama dengan penyakit lainnya, karena pada penyakit ini semakin banyak ditemukan kasus TBC maka semakin menunjukkan kinerja suatu daerah dalam penanganan TBC.

Pemerintah Pusat telah menghitung beban TB di setiap provinsi. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Pemerintah Pusat, Sulsel ditargetkan memiliki beban TB sebanyak 30.985 kasus.

Target ini turun dari tahun 2021 yakni 31.022, sedangkan tahun 2022 ini Sulsel ditargetkan sebanyak 30.985 kasus.

“Temuan kasus tahun 2022 juga lebih baik dari tahun 2021 yang hanya 49 persen dari target. Tahun 2022 kita berhasil menemukan 65,79 persen kasus. Semakin tinggi temuan maka semakin baik kinerjanya,” ujarnya.

Temuan kasus TBC yang masih rendah di tahun 2021, dapat dikaitkan dengan efek dari COVID-19.

Hal senada disampaikan Kasri Riswadi selaku Koordinator Program Yayasan Peduli Tuberkulosis Sulawesi Selatan atau Yamali TB Sulsel menyatakan bahwa kedatangan pandemi COVID-19 di awal tahun 2020 sangat berpengaruh dalam penanggulangan TB.

“Dari sisi suspek TBC, masyarakat semakin ragu untuk memeriksakan diri ke layanan tersebut karena takut disebut COVID-19, yang berdampak pada temuan kasus TBC yang menurun drastis di tahun 2020 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, ” jelasnya.

Baru pada tahun 2022, jumlah temuan kasus dinilai akan kembali meningkat seiring dengan status pandemi yang juga berimbas pada kasus maupun penyebaran informasi.

Sedangkan dari sisi handling juga sama. Tidak sedikit tenaga kesehatan yang menangani TB dipindahkan untuk menangani kasus COVID-19.

“Pengobatan TB juga menjadi kurang optimal dari sebelumnya. Ada juga keterkaitan antara COVID-19 dan TB, TB komorbid bahkan beberapa kali disebutkan bahwa sebagian kematian akibat COVID-19 bukan karena COVID tetapi karena TBC,” katanya.

Leave a Comment