Kisah “Si Astuti” wara wiri di jalanan Hanoi

Hanoi, Vietnam (ANTARA) – Kendaraan roda dua menjadi alat transportasi yang paling diminati di Hanoi, Vietnam, karena dapat dengan lincah menerobos kesemerawutan lalu lintas khas ibu kota negara berpaham sosialis-komunis ini.

Beragam jenis kendaraan berlalu lalang di lalu lintas Hanoi yang padat, mulai motor matic, motor 2-tak, motor 4-tak dan motor listrik.

Namun perhatian ANTARA tertuju pada jenis motor bebek “jadul” (zaman dulu) yang masih banyak digunakan warga Hanoi.

Motor era tahun 90-an di Indonesia itu, tak hanya digunakan kalangan tua tapi juga anak muda di kota berpenduduk 3,5 juta jiwa ini.

Bukan untuk bergaya sebagai pencinta barang antik, tapi ini benar-benar digunakan untuk alat transportasi, seperti pasti merek yang cukup ternama di Indonesia, motor Honda Astrea Prima, Astrea Grand, C70, C800, dan lain-lain. Honda C70 di Indonesia dulu terkenal dengan sebutan “Astuti” atau Astrea Tujuh Tiga.

ANTARA yang berada di Hanoi untuk keperluan peliputan SEA Games Vietnam 2021 sejak 11 Mei 2022, sempat mewawancarai penduduk Hanoi, Nguyen Chung.

Ia lancar berbahasa melayu karena sempat bekerja di sebuah hotel di Malaysia.

“Memang masih banyak yang pakai karena harganya murah dan bagi yang tidak punya uang ini cocok sekali. Selain murah juga irit bahan bakar,” kata dia.

Harga kendaraan ini berkisar 1,5 juta VND atau jika dikonversi ke rupiah sekitar Rp900.000 per unit.

Sementara untuk kendaraan baru asal Jepang dan China berkisar 25.000.000 VND atau Rp 15 juta-an.

Saat ditanya berasal dari mana motor bebek jadul ini, cukup mengejutkan ketika ia mengatakan bahwa itu berasal dari dari Indonesia, China, Thailand.

Jika mau membelinya pun sangat mudah karena dapat ditemukan di pasar-pasar otomotif Vietnam hingga ke desa pelosok, kata dia.
 

CATEGORIES
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus (0 )