FKPT Sulsel dan Bali perkuat kerja sama cegah terorisme

Makassar (ANTARA) – Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Sulawesi Selatan bersama FKPT Provinsi Bali berkomitmen memperkuat kerja sama dalam hal pencegahan terorisme serta edukasi mengenai bahaya paham radikalisme.

“Ini menjadi penting demi meningkatkan peran FKPT dalam pencegahan terorisme,” kata Kepala Bidang Pengkajian dan Penelitian FKPT Sulsel, M Ishaq Shamad di Makassar, Minggu.

Ia menjelaskan, setiap kegiatan FKPT Sulsel selalu disertai dengan data dan hasil riset, sehingga kegiatan akan selalu fokus terhadap isu yang berkembang di masyarakat.

Selain itu, kegiatan FKPT Sulsel dipublikasikan secara terbuka di masyarakat melalui media massa dan media sosial. Ia beranggapan hal ini penting untuk memberikan edukasi mengenai bahaya radikalisme dan terorisme kepada masyarakat.

“Kegiatan FKPT Sulsel selalu dilatarbelakangi data dan hasil riset agar kegiatan tepat sasaran. Pengurus pun banyak menjadi narasumber di kegiatan masyarakat, terkait konten isu bahaya radikalisme, intoleransi dan terorisme dapat tersosialisasikan di masyarakat,” ujarnya.

Tidak hanya itu, bersama pengurus FKPT Provinsi Bali yang belum lama ini berkunjung ke Makassar, di ruangan Gedung Universitas Islam Makassar, juga menyatakan komitmen untuk selalu selaras dan bersama-sama terus melakukan upaya pencegahan terorisme.

Wakil Ketua sekaligus Bendahara FKPT Bali, H Masrur M Latanro, dalam kesempatan itu mengatakan, kehadiran FKPT Bali dalam rangka meningkatkan peran FKPT sebagai melakukan upaya pencegahan terorisme di Indonesia.

“Kehadiran kami di Sulsel berbagi dan belajar kepada FKPT Sulsel yang sudah lama terbentuk. Belajar dan bertukar informasi terkait kegiatan, sebagai upaya pencegahan terorisme, sehingga kehadiran FKPT di seluruh Indonesia dapat memberikan dampak baik di masyarakat,” tuturnya.

Hal senada disampaikan Kabid Penelitian dan Pengkajian FKPT Bali, Masrur. Ia menjelaskan bahwa pentingnya media digital dalam memberikan edukasi dan pencegahan terorisme. Ia menambahkan bahwa pendekatan “local wisdom” atau kearifan lokal menjadi hal penting dalam meredam radikalisme.

“Paling pertama untuk memberikan edukasi kepada masyarakat dengan menggunakan media sosial, serta pendekatan kearifan lokal di masyarakat, seperti di Bali dengan istilah ‘menyama braya’. Ini sangat penting dalam meredam isu radikalisme melalui pendekatan kemanusiaan berbasis kearifan lokal,” tambahnya.

CATEGORIES
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus (0 )